Fourioustisme

Universitas Sanata Dharma Blog Competition

Pernahkah kamu melihat sebuah tulisan? Pertanyaan bodoh.

Pasti kalian pernah melihatnya. Kalau mengamati secara detail? Ya, minimal tingkat kejelasan tulisannya. Maaf, untuk yang memiliki tulisan di bawah rata-rata harap segera mengabaikan tulisan ini. Saya harap segera!

Tulisan yang kurang mudah dibaca (baca: buruk) memang sulit dibaca. Ya iyalah. Tetapi, sadarlah bahwa di atas langit masih ada langit, begitu juga di bawah tanah pasti ada tanah. Jadi, terpuruklah bagi kamu yang memiliki tulisan di bawah rata-rata.

Dari beberapa pengamatan yang gue lakukan. Gue membuat hipotesis seperti ini, ‘Pulpen mempengaruhi baik dan buruknya tulisan’. Ilmiah banget, ya. Setelah melalui proses penelitian yang cukup sedikit, gue simpulkan hasilnya.

Hal pertama yang mempengaruhi tulisan seseorang adalah faktor internal. Faktor internal ini bisa dikatakan pewarisan sifat atau gen dari orang tua. Orang tua kandung bukan orang tua yang suka bergelantungan di pohon.

Peran orang tua, masih orang tua kandung, sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan si buah hati. Agak ambigu juga kalimat yang gue buat. Maksudnya penting bagi perkembangan tulisan si buah hati. Ajari anak anda cara menulis huruf dengan baik dan benar. Berikanlah dia poster yang memuat huruf-huruf abjad beserta videonya, buku halus dan buku kasar, buku EYD, kamus besar Bahasa Indonesia, dan.. stop! Dia masih kecil, jangan beri dia samurai.

Seiring tumbuhnya si buah hati, tulisannya pun akan mulai berkembang. Yang dulu hanya sebatas benang yang belum dirapikan sekarang sudah seperti rumput yang bergoyang. Jangan marah, itu sudah termasuk sebuah peningkatan. Bayangkan jika benang belum rapi tadi berpindah di kumisnya, apa yang akan teman-temannya katakan?

Penyebab lain bentuk dan tulisan sesorang juga bisa bergantung kepada guru TK tempat seseorang sekolah TK, pastinya. Jika tulisan kamu di bawah rata-rata, coba tanyakan kepada guru TK kamu, “Berapa jumlah kumis Doraemon?”, maksud gue begini, “Mengapa saya dinaikkan ke SD padahal tulisan saya masih buruk?”.

Jawaban yang mungkin akan kamu dapatkan adalah:
- “Karena kamu sudah 7 tahun bersekolah di TK ini, apakah kamu ingin menjadi ketua suku di sini?”
- “Siapa bilang? Tulisan kamu sudah bagus, bahkan sudah menyamai tulisan ibu. Jadi kamu pantas naik ke SD. “
- “Tanya saja, bapakmu! Sekarang aku bukan ibu mu! Pergi! Bapakmu pengkhianat!”

Dari ketiga sampel jawaban di atas, mungkin jawaban ketiga yang gue rasa cocok. Halus, penuh perasaan, penjiwaan, dan penghayatan.

Pulpen ternyata juga sangat berpengaruh terhadap tulisan yang kamu buat. Seperti gue, gue suka menulis dengan pulpen Kenko Hi-Tech-H (nama tidak disamarkan) dikarenakan pulpen ini memiliki ujung kecil berukuran 0,28 jadi tulisan gue yang kecil dan rapi (baca: sombong sedikit) mudah diaplikasikan.

Coba bayangkan jika pulpen yang kamu gunakan sebesar paha salah satu atlet dangdut, sebut saja Bang Hercules (nama tidak disamarkan lagi), bisa-bisa kamu bukan menulis tetapi menyanyi ‘Astuti’. Ini membuktikan hipotesis yang gue buat tidak meleset.

Untuk masalah memperbaiki tulisan yang di bawah rata-rata, gue tidak punya solusinya. Kan, sudah gue bilang di awal tadi, silahkan meninggalkan tulisan ini. Karena kamu sudah terlanjur sampai di kalimat penutup ini, terpaksa selesaikanlah. Jika tidak arwah Jumanji akan dating menghampirimu. Salam pulpen baru!

to be continued….

Categories:

Leave a Reply